Baterai Lokal Berpotensi Tekan Impor

BANDUNG, KOMPAS — Balai Penelitian dan Pengembangan Industri di Kementerian Perindustrian telah menyelesaikan riset produksi penyimpanan tenaga baterai untuk telepon seluler. Hasil riset itu diharapkan bisa digunakan pelaku industri lokal untuk mengurangi penggunaan produk impor.

Kepala Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T) Balai Penelitian Pengembangan Industri (BPPI) di Kementerian Perindustrian Budi Susanto menjelaskan, setelah melakukan riset selama dua tahun terakhir, pihaknya berhasil mengeluarkan produk penyimpanan tenaga baterai telepon seluler (ponsel).

“Ini merupakan produk dalam negeri pertama,” ujar Budi pada konferensi pers acara Seminar Industri Nasional 2017: Peluang dan Tantangan Industri Pembangkit Energi Nasional Baterai Listrik, di Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (2/8).

Penyimpanan tenaga baterai ponsel itu diberi nama SuperB4Tery. Produknya berukuran 20 sentimeter x 7,5 sentimeter dengan tenaga baterai litium berkapasitas 7.000 meter ampere per jam. Di badan produk yang terbuat dari kayu itu terdapat tulisan Made In Indonesia.

Bahan baku produksi barang itu, antara lain, litium, nikel, kobalt, besi, dan fosfat. Selain litium yang masih diimpor dari China, bahan baku lainnya berasal dari dalam negeri.

Budi menjelaskan, agar bisa diproduksi secara massal diperlukan peran pelaku industri yang mau menggunakan dan memproduksi hasil riset B4T. Saat ini sudah ada dua perusahaan swasta yang menyatakan tertarik, yaitu PT Indobatt Industri Permai dan PT Nipress Tbk.

Tekan impor

Kepala BPPI di Kementerian Perindustrian Ngangkan Timur Antara menjelaskan, produksi penyimpanan baterai dalam ponsel itu diharapkan bisa memperkuat struktur industri dan menggantikan produk impor. Menurut dia, sejauh ini belum ada produksi dalam negeri untuk produk serupa.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor baterai litium pada 2016 mencapai 91 juta dollar AS atau Rp 1,18 triliun. Adapun impor baterai litium pada Januari sampai dengan Mei 2017 mencapai 48 juta dollar AS atau sekitar Rp 624 miliar.

Ngangkan mengakui, riset produk penyimpanan baterai ponsel ini terlambat karena impor baterai sudah melonjak. Ia menjelaskan, pihaknya hanya melakukan riset sesuai arahan prioritas pemerintah pusat. Riset soal produk penyimpanan baterai ponsel ini sudah diamanatkan dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035 sehingga bisa mulai dikembangkan.

“Saat ini, ada upaya mendorong pembuatan produk energi listrik dalam negeri. Karena itu, kami mempercepat riset-riset terkait di bidang ini,” ujar Ngangkan.

Pada tahap berikutnya, mereka akan mengembangkan produk motor listrik dan gardu listrik untuk rumah. Ngangkan juga menjelaskan, dari 72 balai industri di bawah BPPI, pihaknya juga mengembangkan produk lain untuk substitusi impor, seperti bahan baku farmasi, bahan baku makanan, tekstil, dan sepatu.

“Semua pengembangan untuk memperkuat industri dalam negeri, menggantikan impor, dan mendorong kemandirian industri,” katanya. (BKY)

Galih Ginanjar