B4T Ikut Berkiprah dalam Pengembangan Industri 4.0 Melalui Kegiatan Riset

Era Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan peluncuran Making Indonesia 4.0, sebuah peta jalan yang memuat strategi dan arah yang jelas dalam upaya merevitalisasi sektor manufaktur. Revolusi Industri 4.0  ini menjadi program penting bagi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dalam mengembangkan industri manufaktur.

Kebijakan pengembangan industri manufaktur melalui penerapan industri 4.0 ini telah menarik perhatian para peneliti di salah satu instansi di bawah naungan Kemenperin, yaitu Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T).

Untuk mendukung program Kemenperin tersebut, B4T melalui para penelitinya ingin berkontribusi atau berkiprah  dengan  kegiatan riset, sehingga hasil risetnya nanti bisa diimplementasikan oleh industri.

‘’Terkait penerapan Industri 4.0 ini yang menjadi program unggulan Kemenperin, kami di B4T pun ingin berkontribusi melalui kegiatan riset untuk memenuhi kebutuhan industri manufaktur,’’ ujar Kepala Seksi Informasi B4T, Galih Ginanjar yang didampingi Peneliti B4T, Mas’ud Adhi Saputra dan Staf Seksi Pemasaran dan Kerjasama B4T, Cecep Ahmad Zein Firdaus ketika berbincang-bincang dengan Sentra Elektrik, baru-baru ini.

Galih melanjutkan kegiatan riset yang dilakukan para peneliti di B4T terkait Industri 4.0 ini, diantaranya di sektor elektronik, seperti pengembangan baterai Ion Litium, komponen elektronika dan Internet of Things (IoT) Manufacturing.

‘’Dengan adanya pengembangan riset komponen elektonik ini diharapkan dapat menurunkan impor komponen itu sendiri. Selama ini industri elekronik nasional masih ketergantungan terhadap komponen impor, sehingga hal ini dapat mempengaruhi terhadap daya saing produk elektronika yang dihasilkannya,’’ kata Galih.

Dikatakan  dalam penerapan Industri 4.0  ini tidak terlepas dari penerapan atau ketersediaan infrastruktur layanan telekomunikasi berupa jaringan internet. Hal ini menjadi prasyarat mutlak pengembangan riset di bidang IoT Manufacturing.

Sejauh ini, telah dilakukan penelitian dan pengembangan terkait IoT yang sesuai kebutuhan industri, berupa energy monitoring dan equipment monitoring.

‘’Dengan adanya sistem energy monitoring ini, maka terkait penggunaan energi baik yang digunakan  untuk mengoperasikan mesin, dan penerangan kantor atau pabrik bisa dipantau berapa besarnya energi yang terpakai dan berapa biaya energi yang mesti dibayarkan,’’ ujar Mas’ud.

Mas’ud mengatakan, jika hasil riset ini bisa diimplementasikan atau diuji coba B4T dengan baik, selanjutnya hasil penelitian ini akan ditularkan kepada industri yang membutuhkannya.

Ketika ditanyakan sejauh mana dukungan B4T dalam mengembangkan energi  baru terbarukan. Galih maupun Mas’ud menjelaskan B4T cukup menaruh perhatian besar dalam pengembangan energi baru terbarukan, antara lain pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan riset baterai Ion Litium untuk powerbank, powerhouse dan baterai motor listrik.

B4T sendiri merupakan salah satu anggota konsorsium dalam Konsorsium Kemandirian Industri Fotovoltaik Nasional (KKIFN). B4T juga melakukan penelitian dan pengembangan terhadap produk-produk yang terkait energi surya, seperti Inverter dan DC Combiner.

Selain itu, kata Mas’ud di B4T juga ada inkubator bisnis dengan memberikan pelatihan-pelatihan kepada perusahaan pemula atau start up yang bergerak di bisnis solar panel. (Lili Supaeli)

Leave a Comment

Indonesian ID English EN