Business Matching Kementerian Perindustrian Bersama Pelaku Industri Otomotif Guna Meningkatkan Inovasi Produk Lokal Dalam Substitusi Impor

Kementerian Perindustrian terus memacu produktivitas dan daya saing industri otomotif guna mampu memenuhi kebutuhan konsumen domestik dan semakin kompetitif untku mengisi pasar ekspor. Pengembangan daya saing industri otomotif harus sejalan dengan pengembangan industri komponen, dan sejalan dengan hal tesebut Kementeran Perindustrian berkomitmen untuk terus mendorong penggunaan komponen lokal pada industri otomotif yang ada, Kemenperin juga semakin fokus pada peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) dalam upaya menopang implementasi Industri 4.0.

Salah satu upaya Kemenperin adalah dengan mengadakan Business Forum dengan di Hotel Aston Tropicana, Bandung (8/4). Acara yang turut dihadiri oleh Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian, Sony Sulaksono ini diharapkan dapat memacu produktivitas dan inovasi sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Agenda yang dibahas dalam pertemuan itu adalah mengenai potensi penggunaan komponen dalam negeri berteknologi tinggi oleh industri otomotif dalam rangka mendukung program substitusi impor serta peningkatan kompetensi tenaga kerja industri otomotif nasional melalui program vokasi yang bekerjasama dengan stakeholder industri otomotif tanah

Persaingan tidak hanya terjadi antar produsen di pasar domestik saja, namun juga di pasar otomotif regional dan global. Oleh karena itu, agar dapat terus berkembang, industri otomotif nasional perlu meningkatkan daya saingnya. Dalam rangka meningkatkan kualitas tenaga kerja, mendorong peningkatan inovasi dan membangun industri padat karya. Vokasi dalam hal ini adalah dalam bentuk Praktik Kerja dan Pemagangan.

Demi mendukung terciptanya tenaga kerja yang berkualitas serta mendorong inovasi, Kementerian Perindustrian memberikan pembiayaan training, tools dan kurikulum, menyusun SKKNI untuk bidang otomotif yang melibatkan Stakeholder, serta melaksanakan pemberdayaan difokuskan pada tenaga kerja baru dan pemberdayaan masyarakat

Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T) turut memberikan pemaparan terkait dengan fasilitas pengujian komponen otomotif SPPT SNI yang sudah tersedia di B4T. Diantaranya Pengujian Pelek Bermotor Roda Empat, Pelek Kendaraan Bermotor Roda Dua, Ban Sepeda Motor, Ban Mobil Penumpang, Ban Truk Ringan, Ban Truk dan Bus, Serta Kampas Rem Kendaraan Bermotor.

Selain peningkatan kualitas tenaga kerja, Pemerintah juga terus mendorong inovasi terhadap lokalisasi bahan baku (raw material). Hal ini ditujukan agar mengurangi ketergantungan impor pada proses produksi IKM otomotif dan meningkatkan struktur industri. Pemerintah dalam skema ini akan membangun momentum yang kemudian harus diantisipasi oleh industri otomotif dengan mempersiapkan daya saing industri yang tinggi.

Komponen lokal tersebut nantinya akan tercantum dalam daftar tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dimana produsen harus menggunakan setidaknya sebanyak 70 persen ke atas untuk dapat mengajukan permohonan insentif PPnBm. Disini produsen otomotif harus memperkenalkan dan mendorong teknologi terkini dalam industri otomotif, sementara IKM harus terus menerus melakukan inovasi. Inovasi tidak hanya terbatas pada IKM manufaktur namun juga seluruh rantai pasok yang terlibat dalam industri otomotif seperti logistik. Pengembangan industri pemasok komponen lokal, yang sebagian besar berkategori Industri Kecil Menengah (IKM), juga tengah diupayakan pemerintah. Namun, mengingat pasokan komponen otomotif sangat mempengaruhi proses produksi, diperlukan pula peran aktif dari perusahaan manufaktur otomotif untuk turut menguatkan rantai pasokan melalui pendampingan pengembangan pemasok komponen otomotif lokal yang kebanyakan IKM.

Dalam kegiatan ini nota kesepahaman antara Balai Besar Bahan dan Barang Teknik, Balai Besar Tekstil, Balai Besar Kerajinan dan Batik, Balai Besar Keramik, PT Chemco Harapan Nusantara, dan PT Sagateknindo Sejati pun terbentuk terkai tkerjasama strategis antar pihak industry dengan stakeholder.

Penulis: Rd. Anton Julianto Pramono

Editor: Rian Trijayana

Leave a Comment